Sunday, May 20, 2007

Menyelami Dzikir Pagi dan Sore (1)

Bismillaah..

Washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah.

Alangkah baiknya kalo kita masuk sejenak di tema ini.. Supaya aktivitas dzikir & ibadah kita bisa meningkat menjadi LEBIH SUBSTANSIAL, dan tidak hanya terbatas sebagai rutinitas ritual yang TANPA PENGHAYATAN.

Kita tahu, doa pagi dan petang (terutama pagi) merupakan salah satu ritual yang sangat disupport oleh Al-Quran. Rasulullah saw juga sering sekali menganjurkan dzikir antar dua ujung Siang ini. Tentunya, ritual ini bukan ditujukan untuk “asal mengucap”, apalagi “komat-kamit secara otomatis”. Tidak ada tuntunan Islam yang TANPA MAKNA. Tidak ada ibadah apapun yang tidak bisa DIHAYATI. Semuanya psti penuh hikmah dan pengertian yang mendalam. Tinggal kitalah yang harus proaktif mendalaminya.

Aneka pahala dan manfaat yang dijanjikan untuk pengamalan Doa-doa Pagi & Petang ini punya kaitan yang sangat erat dengan SUBSTANSI MAKNA yang dikandung oleh masing-masing doa tersebut. Juga berkaitan erat dengan keistimewaan dua domain waktu yang memang sangat spesial itu. Saat Pagi (setelah Shubuh - Syuruq) dan Petang (setelah Ashar - Maghrib) adalah saat pergantian antara Malaikat Malam dan Malaikat Siang. Di saat itulah Catatan Harian (CatHar) para malaikat tentang amal perbuatan kita dalam setiap malam dan siang akan siap ‘dikemas’ untuk selanjutnya dilaporkan. Nah, alangkah cemerlangnya jika laporan amal perbuatan kita setiap paruh hari tersebut selalu DIAWALI dan DITUTUP dengan event DZIKIR yang BERKUALITAS. Sebagaimana juga alangkah cemerlangnya jika Laporan Pekanan (LapKan) kita selalu happy ending karena ditutup oleh Puasa Senin-Kamis yang dikerjakan dengan baik.

Oke.. kita menukik langsung ke salah satu wirid pagi yang kualitasnya sangat tinggi dan mengandung pengertian yang teramat dalam. Sayangnya wirid ini kemarin tidak termasuk dalam daftar ‘okazion’-nya Mas Lathif. Padahal di antara Doa-doa Pagi dan Petang yang dituntunkan Rasulullah saw, wirid dzikir ini termasuk yang sangat istimewa. Bahkan dicontohkan serta dibanggakan sendiri secara langsung oleh beliau.

Bunyinya:

“Subhaanallaahi wa bihamdihi ‘adada kholqihi wa ridloo nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midaada kalimaatihi - 3x” (H.S.R. Muslim dll.)

Ketika Kanjeng Rasul mulai berangkat ke Mesjid untuk ngimamin Sholat Shubuh, saat itu beliau melihat Sayyidah Juwairiyah r.a. tengah khusyu’ beribadah di mushollanya. Sampai ketika waktu Dhuha sudah beranjak, Rasulullah baru pulang. Setelah ditanyakan oleh Rasul, ternyata Juwairiyah mengaku masih berada dalam posisi semula seperti semenjak Rasul berangkat ke Mesjid: KHUSYU’ BERDZIKIR. Rasulpun kemudian mengatakan bahwa saat di luar tadi, beliau telah membaca sebuah DZIKIR ISTIMEWA yang timbangannya lebih berat atau sepadan dengan semua yang telah diucapkan oleh Juwairiyyah semenjak awal.

Mengapa dzikir ini menjadi begitu istimewa?

Mari kita telaah kandungannya satu persatu:

- Subhaanallaah : (Aku nyatakan) Maha suci Allah

- wa bihamdihi : dengan seraya memuji-Nya

- ‘adada kholqihi : sebanyak jumlah ciptaan-Nya

- wa ridloo nafsihi : dan sekadar keredhoan Diri-Nya

- wa zinata ‘arsyihi : dan seberat singgasana-Nya

- wa midaada kalimaatihi : dan setinta firman-firman-Nya

Anda tahu apa artinya dari dzikir di atas..?

Ya, cerdas sekali!

Artinya adalah: Kita memuji Allah Ta’ala menggunakan ukuran yang paling tinggi yang kita kenal; THE ULTIMATE MEASUREMENT!

Dalam dunia Ontologi, segala hal yang bisa dikenali oleh manusia terbagi menjadi dua kelompok (atau tiga):

(1) Obyek / Substansi / Individu / Jauhar / Dzat / Dependentia

(2a) Properti / Atribut / Karakterisrik / ‘Ardlun / Sifat / Independentia

(2b) Dimensi / Predikat / Kondisi / Bu’dun / Hal / Abstraksi

Misalnya kita mempunyai sebuah obyek BUAH JERUK. Obyek ini memiliki beberapa dimensi seperti BENTUK, UKURAN, BERAT, WARNA, RASA, UMUR, POSISI, dsb. Nah.. untuk mengatributi obyek Buah Jeruk ini, kita menggunakan beberapa satuan untuk menggambarkan karakteristiknya.

Misalnya:

Buat Jeruk itu :

- Bentuknya BULAT,

- Ukurannya GEDHE,

- Beratnya RADA MANTAP,

- Warnanya KUNING KEMERAH-MERAHAN,

- Rasanya MANIS BUKAN KEPALANG,

- Umurnya BARU SEHARI DARI POHON, dan

- Posisinya DI DEPAN MATA SIAP DI LAHAP.

Swir…. swir…. Sreg… Bismillah… Kresh.. Nyam-nyam.. Hlepp! :) Ada yang berminat? Hubungi toko buah terdekat di kota Anda..

Jadi begitu.

Manusia menggunakan berbagai satuan untuk mengukur, menakar, dan mendeskripsikan aneka properti dan karakteristik sebuah obyek. Takaran-takaran yang kita kenal pun beraneka ragam coraknya. Ada yang menggunakan benda-benda alam beserta dinamikanya (seperti ‘Rotasi Bumi’ untuk “Hari, Siang, Pagi, Sore, Malam, & Pekan”, ‘Rotasi Bulan’ untuk “Bulan & Tahun Syamsiyyah”, dan ‘Revolusi Bumi’ untuk “Musim & Tahun Syamsyiyyah”).

Ada juga yang menggunakan satuan lain yang lebih standar (METER untuk PANJANG, GRAM untuk BERAT, DERAJAT untuk SUDUT, LITER untuk VOLUME, CELSIUS untuk SUHU, DERAJAT untuk SUDUT, HEKTAR untuk LUAS, WATT untuk DAYA, JAM untuk DURASI, KM/JAM untuk KECEPATAN, dsb.)

* * *

Nah, Takaran apakah yang paling maksimum di alam ini..?

Jawabannya kita temukan dalam dzikir di atas.

Perhatikan:

- Jumlah makhluk Allah : luar biasa banyaknya

- Keredhoan Diri Allah : luar biasa kualitasnya

- Timbangan Singgasana Allah : luar biasa beratnya

- Tinta Firman-firman Allah : luar biasa melimpahnya

Bisakah Anda menghitung jumlah makhluk ciptaan Allah?

Bisakah Anda mengukur kadar keredhoan yang dicurahkan Allah?

Mampukan Anda mengukur berat Arsy yang merupakan makhluk paling besar?

Sanggupkah Anda menakar berapa banyak tinta yang dibutuhkan untuk menuliskan firman-firman Allah? yang oleh Al-Quran dikatakan bahwa jikalau seluruh pohon ini dijadikan pena dan 7 lautan sebagai tintanya, maka semuanya akan habis di saat untaian firman-Nya belum juga habis.. Sebab firman Allah bukan cuma Taurat, 10 Wasiat, Zabur, Injil, dan Quran. Tapi untuk SETIAP MAKHLUK dan SETIAP KEJADIAN, Allah memfirmankan “Kun!” (”Jadilah!”), maka ia pun jadi (fayakuun). Dan kita sudah singgung.. seluar biasa apa banyaknya makhluk Allah tersebut.

Semua ukuran-ukuran ini (Jumlah Makhluk, Kualitas Ridho, Timbangan ‘Arsy, & Limpahan Kalimat) adalah ukuran maksimum yang pernah kita kenal. Ukuran-ukuran semuanya merupakan takaran-takaran yang takterhingga (infinity) yang tidak mampu dibayangkan oleh akal manusia. Semuanya mengarah pada ABSTRAKSI YANG PALING OPTIMAL!

Dan segala ukuran maha luar biasa itu, kita gunakan untuk menyatakan KUANTITAS, KUALITAS, NILAI, dan FREKUENSI dari TASBIH dan TAHMID yang kita ucapkan di waktu pagi tersebut:

“Subhaanallaahi wa bihamdihi ‘adada kholqihi wa ridloo nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midaada kalimaatihi” (3x)

“Aku nyatakan KemahaSucian Allah dengan seraya memuji-Nya.. sebanyak jumlah ciptaan-Nya, sebagus keredloan Diri-Nya, seberat timbangan singgasana-Nya, dan semelimpah tinta untuk firman-firman-Nya” (3x)

Ini merupakan puncak PENSUCIAN & PEMUJAAN terhadap Allah Ta’ala yang mampu dilakukan oleh seorang hamba. Itupun–seperti disinggung oleh salah satu wirid lainnya–masih tidak sepadan dengan Hak Allah yang sebenarnya. Allah Ta’ala jauh lebih sempurna dari seluruh puja-puji yang pernah dan yang bisa kita lontarkan..

“Allahumma laa nuhshii tanaa’an ‘alaik..

Anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik!”

(”Ya Allah, kami takkan mampu menunaikan sanjungan untuk-Mu.. Dirimu adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan sendiri!”)

* * *

Tinggal satu pertanyaan barangkali: Apa itu PENSUCIAN & PEMUJAAN?

Singkat kata, PENSUCIAN adalah : Pernyataan kita bahwa Allah MAHA BERSIH dari SEGALA KEKURANGAN dan KEJELEKAN, baik pada Dzat-Nya, pada sifat-sifat-Nya, maupun pada perbuatan-perbuatan-Nya. Karena itulah, Allah memiliki sebutan-sebutan: Al-Qudduus, As-Salaam, & As-Subbuuh.

Sedang PEMUJAAN adalah : Pernyataan kita bahwa Allah MAHA PARIPURNA dengan segala atribut-atribut keSEMPURNAan-Nya, baik pada Dzat, pada posisi, pada sifat-sifat, maupun pada perbuatan-perbuatan-Nya. Karena itulah Allah memiliki sebutan-sebutan:

- Al-Awwal, Al-Aakhir, Adh-Dhoohir, Al-Baathin, …

- Al-Baariy, Al-Malik, Ar-Robb, Allah, …

- Ar-Rohmaan, Al-Jabbaar, Al-’Aziiz, Al-’Aliim, …

- Al-Khooliq, Ar-Rozzaak, Al-Ghofuur, Ar-Rohiim, …

Jadi dzikir ini telah menghimpun segala asma & sifat Allah yang kita simpulkan dalam 2 poros wirid: PUJA-PUJI & PENSUCIAN. Sebagaimana Dzikir-dzikir Utama yang diajarkan oleh Islam juga selalu berkisar di antara dua poros ini: Memuja Allah dan Mensucikan-Nya.

- Subhaanallaah : Pensucian yang mengandung Pujian

- Al-Hamdu lillaah : Pemujaan yang mengandung Pensucian

- Laa ilaaha illallaah : Pensucian + Pemujaan

- Allahu Akbar : Pemujaan + Pensucian

Itulah juga mengapa SURAT AL-IKHLASH menjadi SURAT YANG PALING UTAMA dalam Al-Quran, dan AYAT KURSI merupakan ayat YANG PALING UTAMA dalam Al-Quran. Sebab Surat Al-Ikhlash BERISI PENUH tentang Pujian, Pujaan, dan Pensucian terhadap Allah.. begitu juga dengan Ayat Kursi.

Dan itu juga mengapa Surat Al-Ikhlash & Ayat Kursi merupakan dzikir yang sangat dituntunkan oleh Rasulullah saw untuk kita baca setiap Pagi, petang, dan setelah melaksanakan Sholat

Semoga dzikir agung ini bisa kita hayati, kita dalami, dan kita amalkan dengan sebaik mungkin.. Amin.

Subhaanallaah.. Walhamdu lillaah..

Walaa ilaaha illallaah.. Wallahu Akbar!

…….

Wallahu a’lam wa huwa wahdahul musta’aan…

Salam,

Nidhol

(dari http://groups.yahoo.com/group/MAPK-Solo/message/1117)


No comments: